Terlahir sebagai seorang wanita, sering kali kita menganggap bahwa kita adalah golongan manusia yang lemah yang perlu mendapatkan perlindungan. Benarkah? Atau itu hanya mindset diri kita dan lingkungan kita saja. Yang sudah menjadi hal yang wajar atau sebuah hal keumuman bagi kita.

Coba kita belajar dari sejarah, untuk mengambil sikap yang tepat agar tidak terjebak dengan anggapan umum saaat ini. Sebuah sejarah membuktikan bahwa wanita berikut ini adalah wanita yang bisa dibilang setara dengan 1000 laki-laki. Beliau adalah Umu Umaroh atau Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah. Ummu umaroh mempunyai arti ibunya bagi para pemimpin. Bayangkan saja jadi ibu seorang pemimpin saja sudah hebat, apalagi jadi ibu bagi para pemimpin.

Umu Ummaroh adalah wanita yang bersegera masuk Islam atas ajakan dakwah Mush’an bin Umair. Ummu Umaroh juga termasuk salah seorang dari dua wanita (satunya penduduk Mekkah bernama Ummu Maniq atau Asma binti Amru). Bersama 73 orang laki-laki utusan Anshar dari Madinah yang datang ke Mekah untuk melakukan bai’at kepada Rasulullah SAW.

Setelah memilih dan meyakini islam dalam hatinya lalu berkomiten mengikrarkan keyakinannya itu. Wujud dari ikrarnya tersebut adalah dengan langkah. Ya langkah untuk membuktikan bahwa islam menjadi pilihannya. Alloh dan Rosulnyalah yang jadi tujuan hidupnya. Setelah mengikuti perang Uhud, Ummu Umaroh bersama suami dan putra-putranya juga ikut dalam peristiwa Hudaibiyah, Perang Khaibar, Perang Hunain dan PerangYamamah. Dalam berbagai pertempuran itu, Ummu Umaroh tidak hanya membantu mengurus logistik dan merawat orang-orang yang terluka, tapi juga memanggul senjata menyambut serangan musuh.

 

Kisah Ummu Umaroh Pada Saat Perang Uhud

Kisah kepahlawanan Ummu Umaroh yang paling dikenang sepanjang sejarah adalah saat Perang Uhud, dimana ia dengan segenap keberaniannya membela dan melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.Pada perang itu, Ummu Umaroh bergabung dengan pasukan Islam untuk mengerjakan tugas penting di bidang logistic dan medis. Bersama para wanita lainnya, Ummu Umaroh ikut memberikan minum kepada para prajurit Muslim dan mengobati mereka yang terluka. Pada saat itu Ummu Umaroh menyaksikan pasukan musuh menerobos barisan Muslimin, sementara kaum Muslimin mulai tak karuan dalam barisan.

Karena saat itu kaum Muslimin dilanda kekacauan akibat para pemanah di atas bukit turun dari tempat penjagaannya, melanggar perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.Nyawa Nabi pun berada dalam bahaya. Sampai-sampai Nabi sendiri menangkis berbagai serangan musuh tanpa mengenakan perisai. Melihat hal itu, Ummu Umaroh segera mempersenjatai dirinya dan bergabung dengan yang lainnya membentuk pertahanan untuk melindungi Nabi. Seorang muslim berlari mundur sambil membawa perisainya. Maka seketika Nabi berseru kepadanya,

“Berikan perisaimu kepada yang berperang!”.

Kemudian, lelaki itu melemparkan perisainya, dan segera diambil oleh Ummu Umaroh untuk melindungi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Nabi seketika memandang ke sebelah kanannya dan tampak olehnya seorang wanita tengah mengayun-ayunkan pedangnya dengan gagah dan cekatan serta melindungi Nabi dengan perisainya. Ketika Nabi menoleh ke kiri, dilihatnya lagi wanita tadi sudah bergeser ke kiri Nabi,  dan wanita tersebut melakukan hal yang sama, menghadang bahaya demi melindungi sang Pemimpin orang-orang beriman.Setelah perang usai, Nabi memberikan kesaksian di hadapan sahabatnya:

“Tidaklah aku melihat ke kanan dan ke kiri pada pertempuran Uhud, kecuali aku melihat Ummu Umaroh binti Ka’ab berperang membelaku dengan gigih.”

Dalam perang tersebut, Ummu Umaroh tercatat menerima 12 luka pada anggota tubuhnya, dan yang paling parah adalah luka di bagian lehernya. Namun hebatnya, Ummu Umaroh tidak pernah mengeluh, mengadu apalagi bersedih. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melihat luka di bagian leher di belakang telinga itu, Nabi berseru kepada putera Ummu Umaroh:

“Ibumu, … balutlah luka ibumu! Ya Allah…., jadikanlah mereka sahabatku di surga!”

Mendengar ucapan Nabi itu, Ummu Umaroh berkata kepada anaknya:

 “Aku tidak perduli apa yang menimpaku di dunia ini.”

Keberanian Ummu Umaroh binti Ka’ab sebagai wanita yang ikut berperang di jalan Allah, menjadi perisai Nabi, tentunya sangat luar biasa. Ini menunjukkan betapa cinta dan setianya Ummu Umaroh kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Maka, iapun digelari dengan Perisai Nabi (Difaaun Nabiy).

Dari kisah diatas telah nyata bahwa wanita yang biasanya adalah sebagai kaum yang dilindungi, Ia mampu menjadi pelindung bagi Rosululloh SAW. Bukti cintanya  tehadap Islamlah yang menjadikan Alloh ridho terhadapnya ia mendapat gelar perisai Rosululloh.  Sejenak berfikir, lalu bertanya bagaimana degan kita? Jika Ummu Umaroh sebagai wanita saja sanggup, seharusnya kitapun sanggup.